Kamis, 16 Mei 2013

Jenis-jenis Kalimat

 Jenis Kalimat
            Jenis kalimat dapat ditinjau dari sudut (a) jumlah klausanya (b) bentuk sintaksisnya (c) kelengkapan unsurnya dan (d) susunan subjek dan predikatnya. Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1.         Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa.Hal ini berarti bahwa konstituen untuk tiap unsur kalimat, seperti subjek dan predikat, hanyalah satu atau merupakan satu kesatuan.Dalam kalimat tunggal tentu saja mendapat semua unsur wajib yang diperlukan.Disamping itu adapula keterangan tempat, waktu dan alat.
contoh: dia akan pergi


1.1  Kalimat Berpredikat Verbal

1.      kalimat taktransitif
kalimat yang tak berobjek dan tak berpelengkap hanya memiliki dua unsur fungsi wajib, yakni subjek dan predikat. Pada umumnya urutan katanya adalah subjek-predikat.
Contoh: Bu Camat sedang berbelanja.

2.      kalimat ekatransitif
kalimat berobjek dan tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat dan objek.
Contoh: Dia memberangkatkan kereta api itu terlalu cepat

3.      kalimat dwitransitif
verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek, dan satunya lagi sebagi pelengkap.
Contoh: ida sedang mencari pekerjaan
4.      Kalimat Pasif
Pengertian aktif dan pasif dalam kalimat menyangkut beberapa hal: (1) macam verba yang menjadi predikat, (2) subjek dan objek, (3) untuk verba yang dipakai.
Contoh: Pak Toha mengangkat seorang asisten baru.

1.2  Kalimat berpredikat Adjektival
Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa adjektiva atau frasa adjektiva. Seperti pada contoh:
a.       Ayahnya sakit
b.      Pernyataan orang itu benar

Pada contoh diatas, subjek kalimat itu adalah ayahnya, dan pernyataan orang itu.Predikatnya adalah sakit, dan benar.Kalimat yang predikatnya adjektiva sering juga dinamai dengan kalimat statif.Kalimat statif kadang-kadang memanfaatkan verba adalah untuk memisahkan subjek dan predikatnya.Hal itu dilakukan apabila subjek dan predikatnya atau kedua-duanya panjang.
 Contohnya:
a.       Pernyataan ketua gabungan koperasi itu adalah tidak benar
b.      Gerakan badannya pada gerakan tarian yang pertama adalah anggun dan mempesona.

1.3  Kalimat Berpredikat Nomina
Dalam bahasa Indonesia ada dua macam kalimat yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronominal) atau frasa nomina.Dengan demikian kedua nomina atau frasa nominayang dijejerkan dapat membentuk kalimat asalkan syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi. Untuk kedua unsur itu penting karena jika tidak dipenuhi, maka jejeran nomina tidak akan membentuk kalimat.
Contoh:
a.       Buku cetakan bandung itu
b.      Buku itu cetakan bandung

Urutan contoh (a) membentuk satu frasa bukan satu kalimat karena cetakan bandung itu merupakan pewatas dan bukan predikat. Sebaliknya urutan pada (b) membentuk kalimat karena penanda batas frasa itu memisahkan kalimat menjadi dua frasa nomina dengan cetakan bandung sebagai predikat. Kalimat yang predikatnya nomina sering pula dinamakan kalimat persamaan atau kalimat ekuatif.

1.4  Kalimat Berpredikat Numeral
Selain macam-macam kalimat yang predikatnya berupa frasa verba, adjektiva dan nomina yang telah dibicarakan diatas, ada pula kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatrnya berupa frasa numeral.
Contoh:
a.       Anaknya banyak
b.      Uangnya hanya sedikit
c.       Istrinya dua orang
                   
Pada contoh di atas tampak bahwa predikat yang berupa numeralia (kata bilangan) taktentu (banyak, sedikit) tidak dapat diikuti dengan kata penggolong, sedangkan predikat yang berupa numeralia tentu dapat diikuti dengan penggolong.

1.5  Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa frasa prefosisional .
Contoh:
a.       Ibu sedang ke pasar
b.      Mereka kerumah kemarin
c.       Ayah di dalam kamar

Tidak semua poreposisi dapat menjadi predikat kalimat. Kalimat-kalimat berikut terasa janggal bila tidak diikuti dengan verba:
a.       Ia dengan ibunya
b.      Rumah makan sepanjang malam
c.       Pembicaraan mengenai reformasi
d.      Buku itu kepada saya

2.      Kalimat Dilihat dari Bentuk Sintaksis
1.      Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif yang juga dikenal dengan kalimat berita, secara formal jika dibandingkan dengan ketiga jenis kalimat yang lainnya tidak bermarkah khusus.Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Jika suatu saat kita mengetahui ada berita kecelakaan lalu lintas dan kemudian menyamp[aikan peristiwa itu kepada orang lain, maka itu dapat memberitakan kejadian itu, dengan menggunakan bermacam-macam bentuk kalimat deklaratif, antara lain, seperti berikut:
a.       Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat monas
b.      Saya lihat ada mobil masuk ciliwung pagi tadi
c.       Waktu ke kantor, saya lihat ada jip menabrak becak sampai hancur


2.      Kalimat Imperatif
Perintah atau suruhan dan permintaan jika ditinjau dari isinya, dapat diperinci menjadi enam golongan.
1.      Perintah atau suruhan biasa jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu
2.      Perintah halus jika pembicara tampaknya tidak mmemerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilahkan lawan bicara sudi berbuat sesuatu
3.      Permohonan jika pembicara demi kepentingannya minta lawan bicara berbuat sesuatu
4.      Ajakan dan harapan jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu
5.      Larangan atau perintah negatif jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu dan,
6.      Pembiaran jika pembicara meminta agar jangan dilarang.

Kalimat imperative memiliki ciri formal seperti berikut.
a.       Intonasi yang ditandai nada mulai rendah di akhir tuturan
b.      Pemakaian partikel penegas, penghalus dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan dan larangan
c.       Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subjek, jika diperlukan
d.      Pelaku tindakan tidak selalu terungkap


Kalimat imperative dapat diwujudkan sebagai berikut:
a.       Kalimat yang terdiri atas predikat verba dasar atau adjektiva, ataupun frasa preposisional saja yang sifatnya taktransitif
b.      Kalimat lengkap yang berpredikat verba taktransitif atau transitif, dan
c.       Kalimat yang dimarkahi oleh berbagai kata tugas modalitas kalimat

2.1  Kalimat Imperatif Taktransitif
Kalimat imperative taktransitif dibentuk dari kalimat dekralatif (taktransitif) yang dapat berpredikat verba dasar, frasa adjektiva, dan frasa verba yang berprefiks ber- atau meng- atau pun frasa preposisional. Perhatikan contoh berikut:
a.       Engkau masuk.
b.      Masuk!
c.       Engkau tenang!
d.      Tenang.
Kalimat imperatif (a dan c) dapat dilengkapi dengan kata panggilan atau vokatif.
a.       Masuk, Narko!
b.      Tenang, anak-anak!

2.2  Kalimat imperatif Transitif
Kalimat imperatif yang berpredikat verba transitif mirip dengan konstuksi kalimat deklaratif pasif.Petunjuk bahwa verba kalimat dapat dianggap berbentuk pasif ialah kenyataan bahwa lawan bicaranya yang dalam kalimat deklaratif berfungsi sebagai subjek pelaku menjadi pelengkap pelaku, sedangkan objek sasaran dalam kalimat deklaratif menjadi subjek sasaran dalam kkalimat imperatif. Berikut adalah contoh kalimat:
a.       Engkau mencari pekerjaan apa saja
b.      Carilah pekerjaan apa saja!
c.       Kamu membelikan adikmu sepatu baru
d.      Belikan adikmu sepatu baru

2.3  Kalimat Imperatif Halus
Bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang dipakai untuk menghaluskan isi kalimat imperatif.Kata seperti tolong, coba, silahkan, sudilah, dan kiranya sering dipakai untuk maksud itu. Perhatikan contoh berikut:
a.          Tolong kirimkan kontrak ini
b.         Tolong kontrak ini dikirim segera
c.          Tolong mobil saya dibawa ke bengkel
d.         Tolong bawalah mobil saya ke bengkel
e.          Coba panggil kepala bagian umum
f.          Cobalah panggil kepala bagian umum
g.         Coba panggilah kepala bagian umum
h.         Sudilah bapak mengunjungi pameran kami
i.           Silahkan masuk bu
j.           Kiranya anda tidak berkeberatan

Perhatikan letak partikel –lah pada contoh-contoh diatas.Pada kalimat (c, f, h) partikel itu dapat diletakkan pada kata penghalus atau pada verbanya (d, g).pada kalimat verba di, partikel –lah hanya dapat ditempelkan pada kata penghalus saja (c).

2.4  Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat imperative juga digunakan untuk mengungkapkan permintaan.Kalimat seperti itu ditandai oleh kata minta atau mohon.Subjek pelaku kalimat imperatif permintaan ialah pembicara yang sering tidak dimunculkan. Perhatikan contoh berikut:
a.       Minta perhatian, saudara-saudara!
b.      Minta ampun!
c.       Minta maaf, pak!
d.      Mohon memperhatikan peraturan ini.
e.       Mohon surat ini ditandatangani
f.       Mohon diterima dengan baik

2.5  Kalimat Imperatif Ajakan dan Harapan
Di dalam kalimat imperatif ajakan dan harapan tergolong kalimat yang biasanya didahului kata ayo(lah), mari(lah), harap dan hendaknya. Perhatikan contoh berikut.
a.       Ayolah masuk!
b.      Mari kita makan.
c.       Harap duduk dengan tenang
d.      Hendaknya anda pulang saja

2.6  Kalimat Imperatif Larangan
Kalimat imperatif deapat bersifat larangan dengan adanya kata jangan(lah). Perhatikan contoh berikut.

a.       Jangan (kamu) naik
b.      Jangan (kamu) marah
c.       Janganlah (kamu) ke sana dulu
d.      Janganlah kau hiraukan tuduhannya

2.7  Kalimat Imperatif Pembiaran
Yang juga termasuk golongan kalimat imperatif ialah pembiaran yang dinyatakan dengan kata biar(lah) atau biarkan(lah). Sebetulnya dapat diartikan bahwa kalimat itu menyuruh membiarkan supaya sesuatu terjadi atau berlangsung.Dalam perkembangannya kemudian pembiaran berarti minta izin agar sesuatu jangan dihalangi.Perhatikan contoh berikut.

a.       Biarkan saya pergi dulu, kau tinggal di sini.
b.      Biarlah kita bekerja di kebu sekarang.
c.       Biarkan saya yang menggoreng ikan.

3.      Kalimat interogatif
Kalimat interogatif, yang juga dikenal dengan nama kalimat Tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun. Bentuk kalimat interogatif biasanya untuk meminta (1) jawaban “ya” atau “tidak” atau (2) informasi mengenai seuatu atau seseorang dari lawan bicara atau pembaca. Ada empat cara untukmembentuk kalimat interogatif dari kalimat deklaratif:
1.      Dengan menambahkan partikel penanya apayang harus dibedakan dari kata tanya apa.
2.      Dengan membalikan susunan kata
3.      Dengan menggunakan kata bukan(kah) atau tidak(kah)
4.      Dengan mengubah intonasi menjadi naik.
Kalimat deklaratif dalam bentuk apapun (aktif, pasif, ekatransitif, dwitransitif dan sebagainya) dapat diubah dengan kalimat tanya dengan menambahkan partikel apa pada kalimat tersebut.Partikel –kah dapat ditambahkan pada partikel penanya itu untuk mempertegas pertanyaan itu. Intonasinya yang dipakai dapat sama dengan intonasi kalimat berita. Perhatikan contoh berikut:
a.       Dia isteri pak bambang.
b.      Apa dia isterinya Pak Bambang
c.       Apakah suaminya ditangkap minggu lalu?

4.Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif yang juga dikenal dengan nama kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjectival. Kalimat eksklamatif ini, yang juga dinamakan kalimat interjeksi biasa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.
Cara pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif mengikuti langkah berikut:
a.       Balikan urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S
b.      Tambahkan partikel –nya pada adjektiva P
c.       Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa di muka P jika dianggap perlu.
Dengan menerapkan kaidah di atas, kita dapat membuat kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif seperti pada contoh berikut:
a.       Pergaulan mereka bebas
b.      Bebas pergaulan mereka
c.       Bebasnya pergaulan mereka!
d.      Alangkah bebasnya pergaulan mereka

3.Kalimat Taklengkap
Kalimat lengkap juga disebut kalimat minor.Kalimat taklengkap pada dasarnya adalah kalimat yang tidak ada subjek dan/ atau predikatnya.Hal itu terjadi didalam wacana karena unsur yang tidak muncul itu sudah diketahui atau disebutkan sebelumnya. Perhatikan contoh berikut ini:
Amir: kamu tinggal dimana, min?
Amin: Dukampung melayu.

Bentuk di kampung melayu sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kalimat lengkap saya tinggal di kampong melayu.Di luar konteks wacana, kalimat taklengkapsering juga digunakan dalam iklan, papan petunjuk, atau slogan. Perhatikan contoh berikut:
a.       Menerima pegawai baru untuk ditempatkan di Jakarta
b.      Belok kiri boleh langsung
c.       Merdeka atau mati


5.      Kalimat Inversi
Urutaan fungsi dalam Bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola: (a) subjek, (b) predikat, (c) objek (jika ada), (d) pelengkap (jika ada). Akan tetapi ada satu pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek. Perhatikan kalimat berikut.
a.       Ada tamu, Pak.
b.      Ada kabar bahwa dia telah meninggal..
c.       Ada seseorang yang mencari anda
Dari contoh di atas kita lihat bahwa verba ada terletak di muka nomina. Dengan kata lan, urutan fungsinya adalah predikat dahulu baru kemudian diikuti subjek.



DAFTAR PUATAKA

Alwi, Hasan Dkk.2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

0 komentar:

Posting Komentar