Jenis Kalimat
Jenis kalimat dapat ditinjau dari
sudut (a) jumlah klausanya (b) bentuk sintaksisnya (c) kelengkapan unsurnya dan
(d) susunan subjek dan predikatnya. Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat
dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1.
Kalimat
tunggal
Kalimat tunggal
adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa.Hal ini berarti bahwa konstituen
untuk tiap unsur kalimat, seperti subjek dan predikat, hanyalah satu atau
merupakan satu kesatuan.Dalam kalimat tunggal tentu saja mendapat semua unsur
wajib yang diperlukan.Disamping itu adapula keterangan tempat, waktu dan alat.
contoh: dia akan pergi
1.1 Kalimat
Berpredikat Verbal
1. kalimat
taktransitif
kalimat yang tak
berobjek dan tak berpelengkap hanya memiliki dua unsur fungsi wajib, yakni
subjek dan predikat. Pada umumnya urutan katanya adalah subjek-predikat.
Contoh: Bu Camat sedang
berbelanja.
2. kalimat
ekatransitif
kalimat berobjek dan
tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat dan
objek.
Contoh: Dia
memberangkatkan kereta api itu terlalu cepat
3. kalimat
dwitransitif
verba yang dalam
kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek, dan satunya
lagi sebagi pelengkap.
Contoh: ida sedang
mencari pekerjaan
4. Kalimat
Pasif
Pengertian aktif dan
pasif dalam kalimat menyangkut beberapa hal: (1) macam verba yang menjadi
predikat, (2) subjek dan objek, (3) untuk verba yang dipakai.
Contoh: Pak Toha
mengangkat seorang asisten baru.
1.2 Kalimat
berpredikat Adjektival
Predikat
kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa adjektiva atau frasa
adjektiva. Seperti pada contoh:
a. Ayahnya
sakit
b. Pernyataan
orang itu benar
Pada
contoh diatas, subjek kalimat itu adalah ayahnya,
dan pernyataan orang itu.Predikatnya
adalah sakit, dan benar.Kalimat yang predikatnya adjektiva sering juga dinamai
dengan kalimat statif.Kalimat statif kadang-kadang memanfaatkan verba adalah
untuk memisahkan subjek dan predikatnya.Hal itu dilakukan apabila subjek dan
predikatnya atau kedua-duanya panjang.
Contohnya:
a. Pernyataan
ketua gabungan koperasi itu adalah
tidak benar
b. Gerakan
badannya pada gerakan tarian yang pertama adalah
anggun dan mempesona.
1.3 Kalimat
Berpredikat Nomina
Dalam bahasa Indonesia ada dua macam kalimat
yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronominal) atau frasa
nomina.Dengan demikian kedua nomina atau frasa nominayang dijejerkan dapat
membentuk kalimat asalkan syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi. Untuk
kedua unsur itu penting karena jika tidak dipenuhi, maka jejeran nomina tidak
akan membentuk kalimat.
Contoh:
a. Buku
cetakan bandung itu
Urutan
contoh (a) membentuk satu frasa bukan satu kalimat karena cetakan bandung itu merupakan pewatas dan bukan predikat.
Sebaliknya urutan pada (b) membentuk kalimat karena penanda batas frasa itu memisahkan kalimat menjadi dua frasa
nomina dengan cetakan bandung sebagai predikat. Kalimat yang predikatnya nomina
sering pula dinamakan kalimat persamaan atau kalimat ekuatif.
1.4 Kalimat
Berpredikat Numeral
Selain
macam-macam kalimat yang predikatnya berupa frasa verba, adjektiva dan nomina
yang telah dibicarakan diatas, ada pula kalimat dalam bahasa Indonesia yang
predikatrnya berupa frasa numeral.
Contoh:
a. Anaknya
banyak
b. Uangnya
hanya sedikit
c. Istrinya
dua orang
Pada
contoh di atas tampak bahwa predikat yang berupa numeralia (kata bilangan)
taktentu (banyak, sedikit) tidak dapat diikuti dengan kata penggolong,
sedangkan predikat yang berupa numeralia tentu dapat diikuti dengan penggolong.
1.5 Kalimat
Berpredikat Frasa Preposisional
Predikat
kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa frasa prefosisional .
Contoh:
a. Ibu
sedang ke pasar
b. Mereka
kerumah kemarin
c. Ayah
di dalam kamar
Tidak
semua poreposisi dapat menjadi predikat kalimat. Kalimat-kalimat berikut terasa
janggal bila tidak diikuti dengan verba:
a. Ia
dengan ibunya
b. Rumah
makan sepanjang malam
c. Pembicaraan
mengenai reformasi
d. Buku
itu kepada saya
2.
Kalimat
Dilihat dari Bentuk Sintaksis
1. Kalimat
Deklaratif
Kalimat
deklaratif yang juga dikenal dengan kalimat berita, secara formal jika
dibandingkan dengan ketiga jenis kalimat yang lainnya tidak bermarkah
khusus.Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh
pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita
bagi pendengar atau pembacanya. Jika suatu saat kita mengetahui ada berita
kecelakaan lalu lintas dan kemudian menyamp[aikan peristiwa itu kepada orang
lain, maka itu dapat memberitakan kejadian itu, dengan menggunakan
bermacam-macam bentuk kalimat deklaratif, antara lain, seperti berikut:
a. Tadi
pagi ada tabrakan mobil di dekat monas
b. Saya
lihat ada mobil masuk ciliwung pagi tadi
c. Waktu
ke kantor, saya lihat ada jip menabrak becak sampai hancur
2. Kalimat
Imperatif
Perintah
atau suruhan dan permintaan jika ditinjau dari isinya, dapat diperinci menjadi
enam golongan.
1. Perintah
atau suruhan biasa jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu
2. Perintah
halus jika pembicara tampaknya tidak mmemerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba
atau mempersilahkan lawan bicara sudi berbuat sesuatu
3. Permohonan
jika pembicara demi kepentingannya minta lawan bicara berbuat sesuatu
4. Ajakan
dan harapan jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu
5. Larangan
atau perintah negatif jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu
dan,
6. Pembiaran
jika pembicara meminta agar jangan dilarang.
Kalimat imperative
memiliki ciri formal seperti berikut.
a. Intonasi
yang ditandai nada mulai rendah di akhir tuturan
b. Pemakaian
partikel penegas, penghalus dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan dan
larangan
c. Susunan
inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subjek, jika
diperlukan
d. Pelaku
tindakan tidak selalu terungkap
Kalimat
imperative dapat diwujudkan sebagai berikut:
a. Kalimat
yang terdiri atas predikat verba dasar atau adjektiva, ataupun frasa
preposisional saja yang sifatnya taktransitif
b. Kalimat
lengkap yang berpredikat verba taktransitif atau transitif, dan
c. Kalimat
yang dimarkahi oleh berbagai kata tugas modalitas kalimat
2.1 Kalimat
Imperatif Taktransitif
Kalimat imperative taktransitif dibentuk dari
kalimat dekralatif (taktransitif) yang dapat berpredikat verba dasar, frasa
adjektiva, dan frasa verba yang berprefiks ber- atau meng- atau pun frasa
preposisional. Perhatikan contoh berikut:
a. Engkau
masuk.
b. Masuk!
c. Engkau
tenang!
d. Tenang.
Kalimat imperatif (a dan c) dapat
dilengkapi dengan kata panggilan atau vokatif.
a. Masuk,
Narko!
b. Tenang,
anak-anak!
2.2 Kalimat
imperatif Transitif
Kalimat imperatif yang berpredikat verba transitif
mirip dengan konstuksi kalimat deklaratif pasif.Petunjuk bahwa verba kalimat
dapat dianggap berbentuk pasif ialah kenyataan bahwa lawan bicaranya yang dalam
kalimat deklaratif berfungsi sebagai subjek pelaku menjadi pelengkap pelaku,
sedangkan objek sasaran dalam kalimat deklaratif menjadi subjek sasaran dalam
kkalimat imperatif. Berikut adalah contoh kalimat:
a. Engkau
mencari pekerjaan apa saja
b. Carilah
pekerjaan apa saja!
c. Kamu
membelikan adikmu sepatu baru
d. Belikan
adikmu sepatu baru
2.3 Kalimat
Imperatif Halus
Bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang
dipakai untuk menghaluskan isi kalimat imperatif.Kata seperti tolong, coba,
silahkan, sudilah, dan kiranya sering dipakai untuk maksud itu. Perhatikan
contoh berikut:
a.
Tolong kirimkan kontrak ini
b.
Tolong kontrak ini dikirim segera
c.
Tolong mobil saya dibawa ke bengkel
d.
Tolong bawalah mobil saya ke bengkel
e.
Coba panggil kepala bagian umum
f.
Cobalah panggil kepala bagian umum
g.
Coba panggilah kepala bagian umum
h.
Sudilah bapak mengunjungi pameran kami
i.
Silahkan masuk bu
j.
Kiranya anda tidak berkeberatan
Perhatikan letak partikel –lah pada contoh-contoh
diatas.Pada kalimat (c, f, h) partikel itu dapat diletakkan pada kata penghalus
atau pada verbanya (d, g).pada kalimat verba di, partikel –lah hanya dapat
ditempelkan pada kata penghalus saja (c).
2.4 Kalimat
Imperatif Permintaan
Kalimat imperative juga digunakan untuk
mengungkapkan permintaan.Kalimat seperti itu ditandai oleh kata minta atau
mohon.Subjek pelaku kalimat imperatif permintaan ialah pembicara yang sering
tidak dimunculkan. Perhatikan contoh berikut:
a. Minta
perhatian, saudara-saudara!
b. Minta
ampun!
c. Minta
maaf, pak!
d. Mohon
memperhatikan peraturan ini.
e. Mohon
surat ini ditandatangani
f. Mohon
diterima dengan baik
2.5 Kalimat
Imperatif Ajakan dan Harapan
Di dalam kalimat imperatif ajakan dan harapan
tergolong kalimat yang biasanya didahului kata ayo(lah), mari(lah), harap dan
hendaknya. Perhatikan contoh berikut.
a. Ayolah
masuk!
b. Mari
kita makan.
c. Harap
duduk dengan tenang
d. Hendaknya
anda pulang saja
2.6 Kalimat
Imperatif Larangan
Kalimat imperatif deapat bersifat larangan dengan
adanya kata jangan(lah). Perhatikan contoh berikut.
a. Jangan
(kamu) naik
b. Jangan
(kamu) marah
c. Janganlah
(kamu) ke sana dulu
d. Janganlah
kau hiraukan tuduhannya
2.7 Kalimat
Imperatif Pembiaran
Yang juga termasuk golongan kalimat imperatif ialah
pembiaran yang dinyatakan dengan kata biar(lah) atau biarkan(lah). Sebetulnya
dapat diartikan bahwa kalimat itu menyuruh membiarkan supaya sesuatu terjadi
atau berlangsung.Dalam perkembangannya kemudian pembiaran berarti minta izin
agar sesuatu jangan dihalangi.Perhatikan contoh berikut.
a. Biarkan
saya pergi dulu, kau tinggal di sini.
b. Biarlah
kita bekerja di kebu sekarang.
c. Biarkan
saya yang menggoreng ikan.
3. Kalimat
interogatif
Kalimat
interogatif, yang juga dikenal dengan nama kalimat Tanya, secara formal
ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan
bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Kalimat interogatif
diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan
suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun. Bentuk kalimat
interogatif biasanya untuk meminta (1) jawaban “ya” atau “tidak” atau (2)
informasi mengenai seuatu atau seseorang dari lawan bicara atau pembaca. Ada
empat cara untukmembentuk kalimat interogatif dari kalimat deklaratif:
1. Dengan
menambahkan partikel penanya apayang
harus dibedakan dari kata tanya apa.
2. Dengan
membalikan susunan kata
3. Dengan
menggunakan kata bukan(kah) atau tidak(kah)
4. Dengan
mengubah intonasi menjadi naik.
Kalimat
deklaratif dalam bentuk apapun (aktif, pasif, ekatransitif, dwitransitif dan
sebagainya) dapat diubah dengan kalimat tanya dengan menambahkan partikel apa
pada kalimat tersebut.Partikel –kah dapat ditambahkan pada partikel penanya itu
untuk mempertegas pertanyaan itu. Intonasinya yang dipakai dapat sama dengan
intonasi kalimat berita. Perhatikan contoh berikut:
a. Dia
isteri pak bambang.
b. Apa
dia isterinya Pak Bambang
c. Apakah
suaminya ditangkap minggu lalu?
4.Kalimat
Eksklamatif
Kalimat
eksklamatif yang juga dikenal dengan nama kalimat seru, secara formal ditandai
oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat
adjectival. Kalimat eksklamatif ini, yang juga dinamakan kalimat interjeksi
biasa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.
Cara
pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif mengikuti langkah
berikut:
a. Balikan
urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S
b. Tambahkan
partikel –nya pada adjektiva P
c. Tambahkan
kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa di muka P jika dianggap perlu.
Dengan menerapkan kaidah di atas, kita
dapat membuat kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif seperti pada contoh
berikut:
a. Pergaulan
mereka bebas
b. Bebas
pergaulan mereka
c. Bebasnya
pergaulan mereka!
d. Alangkah
bebasnya pergaulan mereka
3.Kalimat Taklengkap
Kalimat
lengkap juga disebut kalimat minor.Kalimat taklengkap pada dasarnya adalah
kalimat yang tidak ada subjek dan/ atau predikatnya.Hal itu terjadi didalam
wacana karena unsur yang tidak muncul itu sudah diketahui atau disebutkan
sebelumnya. Perhatikan contoh berikut ini:
Amir:
kamu tinggal dimana, min?
Amin:
Dukampung melayu.
Bentuk di
kampung melayu sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kalimat lengkap saya tinggal
di kampong melayu.Di luar konteks wacana, kalimat taklengkapsering juga
digunakan dalam iklan, papan petunjuk, atau slogan. Perhatikan contoh berikut:
a. Menerima
pegawai baru untuk ditempatkan di Jakarta
b. Belok
kiri boleh langsung
c. Merdeka
atau mati
5.
Kalimat
Inversi
Urutaan fungsi
dalam Bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola: (a) subjek, (b)
predikat, (c) objek (jika ada), (d) pelengkap (jika ada). Akan tetapi ada satu
pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek.
Perhatikan kalimat berikut.
a. Ada
tamu, Pak.
b. Ada
kabar bahwa dia telah meninggal..
c. Ada
seseorang yang mencari anda
Dari
contoh di atas kita lihat bahwa verba ada terletak di muka nomina. Dengan kata
lan, urutan fungsinya adalah predikat dahulu baru kemudian diikuti subjek.
DAFTAR
PUATAKA
Alwi, Hasan Dkk.2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta
: Balai Pustaka.



0 komentar:
Posting Komentar